KEDIRI – Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri secara resmi memperkuat langkah strategisnya di sektor publik melalui penandatanganan kerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri. Momentum penting ini dilaksanakan bersamaan dengan pembukaan pelatihan Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna) yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari mulai tanggal 2 Desember 2025.
Hadir secara langsung dalam penandatanganan tersebut Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Bapak Moch. Mukhlison, M.Pd.I, serta Ketua Program Studi BKI, Bapak Abd. Basith Arham, M.Psi., Psikolog. Kesepakatan ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan BPBD, termasuk Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Kediri dan Kalaksa BPBD Kabupaten Kediri, dengan mediasi oleh Ibu Ika Novita Sari, M.Psi., Psikolog.
Integrasi Kurikulum dan “BKI Krisis”
Kerja sama ini tidak sekadar seremonial, melainkan diisi dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang intensif. Dalam FGD tersebut, pihak BPBD sebagai mitra strategis memberikan masukan krusial terkait penyusunan kurikulum BKI agar lebih adaptif terhadap kebutuhan lapangan.
Salah satu poin utama yang disoroti adalah urgensi mata kuliah atau spesialisasi “BKI Krisis”. Dalam manajemen kebencanaan, peran keilmuan Bimbingan Konseling Islam dinilai vital, terutama dalam fase pemulihan pasca bencana. Prodi BKI berkomitmen untuk memberikan kontribusi keilmuan (knowledge) bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat, khususnya dalam memetakan lima sektor penanganan pasca bencana.
“Kolaborasi ini mempertegas identitas BKI di sektor publik. Penanganan pasca bencana kini tidak hanya menyentuh aspek fisik dan psikologis semata, namun juga memasukkan sentuhan spiritual yang menjadi ciri khas BKI UIT Lirboyo Kediri, sehingga pemulihan warga terdampak bisa berjalan lebih holistik dan paripurna,” ungkap perwakilan prodi di sela-sela kegiatan.
Harapan Mitra: Riset dan Pelatihan PFA
Dalam sesi diskusi, pihak BPBD menaruh harapan besar terhadap sinergitas antara dosen dan lembaga perguruan tinggi. Kerjasama ini diharapkan dapat mengejawantahkan Tridharma Perguruan Tinggi secara nyata.
BPBD mendorong adanya riset-riset kebencanaan yang berbasis data lapangan untuk mendukung pengambilan kebijakan. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dan dosen sangat dinantikan dalam memberikan pelatihan Psychological First Aid (PFA) kepada masyarakat maupun relawan. Hal ini dinilai relevan dengan kebutuhan BPBD dalam menciptakan ekosistem penanganan bencana yang responsif dan berbasis data.
Pelatihan Jitupasna yang digelar selama empat hari ini menjadi langkah awal implementasi kerja sama tersebut, di mana akademisi dan praktisi duduk bersama merumuskan strategi pemulihan yang efektif bagi masyarakat Kediri dan sekitarnya.
