Home Opini BUCENG UNGKUR-UNGKUR SELAMETAN HAJI

BUCENG UNGKUR-UNGKUR SELAMETAN HAJI

309 views
0
SHARE

Ibadah haji adalah rukun Islam yang ke lima. Bagi seorang muslim, menunaikan ibadah haji sebagai salah satu tanda keislaman seseorang telah sempurna. Di dalam rukun Islam mulai dari bersyahadat, kemudian menunaikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, disempurnakan dengan yang ke lima yaitu menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits Nabi Muhammad SAW berikut:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله ﷺ: بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Terjemahnya:“Dari Abdullah bin Umar -semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Islam dibangun di atas 5 syahadat Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji, puasa ramadhan.

Keutamaan dan kemuliaan ibadah haji apabila mencapai haji yang mabrur sebagaimana di Sabdakan oleh Rasulullah SAW. dalam haditsnya:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Terjemahnya:”Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya, maula Abu Bakar bin ‘Abdur Rahman dari Abu Shalih As-Samman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Umrah ke ‘umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga“. [Muttafaq ‘alaih: Shahih al-Bukhari (no. 1650), Shahiih Muslim (no. 2403), Sunan at-Tirmidzi (no. 855), Sunan Ibnu Majah (no. 2879), Sunan an-Nasa-i (no. 2582].

Mampu secara finansial, secara fisik, dan kondisi keamanan. Banyak orang yang sebenarnya secara finansial, secara fisik, dan kondisi juga memungkinkan, dalam kategori telah mampu, namun tidak mempunyai kesadaran untuk menunaikan ibadah haji. Hal tersebut karena tidak jarang seseorang merasa berat untuk menggunakan harta yang dimilikinya untuk dikeluarkan sebagai biaya ibadah haji. Mengingat memang biaya tersebut tidak sedikit jumlahnya. Juga kecintaan pada keluarga atau jabatan yang sedang diemban menjadikan ibadah haji terasa semakin berat untuk ditunaikan. Hal tersebut yang telah di serukan di dalam Al-Qur’an, Surat Ali Imron: 97 berikut:
فِيْهِ اٰيٰتٌ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَه كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
Terjemahnya:“Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”
Begitu mulianya ibadah haji sehingga Allah telah menyeru kepada semua manusia untuk datang ke baitullah guna melaksanakan ibadah haji tersebut. Perhatikan ayat Al-Qur’an berikut:
وَاَذِّنۡ فِى النَّاسِ بِالۡحَجِّ يَاۡتُوۡكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّاۡتِيۡنَ مِنۡ كُلِّ فَجٍّ عَمِيۡقٍ
Terjemahnya:”Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh”.

Tidak dipungkiri untuk melaksanakan ibadah haji dibutuhkan biaya yang besar. Waktu yang lama. Juga kesiapan fisik dan psikologis yang benar-benar baik. Hal tersebut akan terasa sangat berat jika ibadah haji tersebut bagi seorang yang masih berusia produktif. Masih sibuk-sibuknya mengelola bisnis. Masih aktif dalam jabatan karir dan kedinasan. Harus meninggalkan jaringan kerja dan rekanan mitra bisnis dalam waktu lama. Semua tidak mungkin terjadi akan membawa konsekwensi pada kelancaran bisnis dan usahanya. Tidak jarang pula, bagi yang menekuni dunia pertanian, ibadah haji membutuhkan biaya yang sangat besar untuk ukuran seorang petani yang lahannya tidak terlalu luas. Maka tidak sedikit untuk membuktikan kecintaannya kepada Allah Swt. seseorang menjual asset berupa tanah, bangunan, hewan seperti sapi atau pohon –pohon yang telah ditanamnya dalam rentang waktu yang lama. Demikian pula bagi para pegawai dan karyawan. Untuk dapat menunaikan ibadah haji dibutuhkan kecermatan dan sikap hemat untuk membelanjakan gaji dan penghasilannya agar dapat menyisihkan guna untuk biaya ibadah haji.

Tidak hanya biaya haji yang harus ditanggungnya, namun juga untuk biaya hidup keluarga yang ditinggalkan selama melaksanakan ibadah haji. Tidak hanya biaya hidup yamg menyangkut kebutuhan sembako namun juga menyangkut boiaya pendidikan anak-anak, dan kebutuhan rutin selaku warga masyarakat, sesuai dengan tingkat social masing-masing orang akan membutuhkan cadangan dana yang besar.

Juga secara psikologis ketika seseorang menunaikan ibadah haji, dibutuhkan sikap mental yang benar-benar siap. Karena orang yang telah menunaikan ibadah haji adalah sebagai model dan symbol bagi komunitas disekitarnya bahwa keislaman seseorang telah sempurna. Oleh sebab itu seseorang yang telah menunaikan ibadah haji harus dapat menjaga diri dari pengaruh-pengaruh negative yang dapat melunturkan kemabruran ibadahnya. Selain itu ia juga harus dapat menjadi teladan bagi komunitasnya, dan sesalu menginspirasi orang lain agar segera termotivasi untuk menunaikan ibadah haji.

Sesulit dan seberat apapun orang menunaikan ibadah haji, namun sebenarnya secara substansi masih jauh lebih sulit dan lebih berat untuk menjaga marwah dirinya dari hal-hal yang merendahkan martabat kemabruran ibadah hajinya.
Dengan segala tantangan dan ujian yang sedemikian besar dan berat, banyak dari para jamaah haji yang tidak kembali pulang ke kampong halamannya. Mereka tidak sedikit yang meninggal dunia diperjalanan atau saat menunaikan ibadah haji. Tidak hanya yang berusia tua atau lansia. Tapi juga tidak sedikit yang masih berusia muda dan produktif. Kareana ketia seseorang menunaikan ibadah haji tidak satupun yang tahu apa yang akan dialaminya disana.

Pada zaman sekarang waktu dalam menjalankan ibadah haji relative singkat jika dibandingkan dengan saat zaman dahulu. Saat belum diciptakan pesawat terbang. Pelaksanaan ibadah haji bisa berlangsung lama. Tidak hanya dalam hitungan bulanan, namun juga dapat sampai tahunan. Hal tersebut karena jauhnya jarak nusantara dengan jazirah arab. Sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar untuk berpindah dan berganti alat transportasi baik darat maupun kapal laut. Masuk dan keluar dari satu Negara keluar menuju Negara yang lain. Gangguan kemanan yang sering terjadi seperti begal atau bajak laut merupakan ancaman yang tidak jarang menciutkan nyali orang untuk pergi berhaji. Perjalanan yang sangat berat tersebut juga berdampak pada daya tahan fisik seseorang untuk dapat menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Pelayanan di Makkah dan Madinah serta daerah yang terkait dengan rukun dan wajib haji dan umrah saat itu yang sangat terbatas dan sederhana. Juga ganasnya tantangan alam dan geografi padang pasir yang iklimnya sangat panas dan mematikan. Adalah uji nyali yang tidak banyak orang berani menempuhnya. Betapa gambaran beratnya ujian dan tantangan yang harus dihadapi oleh seorang muslim nusantara untuk menunaikan ibadah haji. Belum lagi beratnya tekanan-tekanan dari bangsa penjajah yang selalu merepresif para calon jamaah haji dari nusantara.

Menyimak begitu beratnya ujian yang dihadapi, banyak para jamaah haji nusantara yang tidak pulang lagi. Mereka ada yang meninggal diperjalanan, atau meninggal saat di Arab Saudi, atau saat kembali dalam perjalanan pulang ke tanah air.
Oleh karena itu menjadi sangat penting bagi seorang muslim yang melaksanakan ibadah haji untuk bisa benar-benar ikhlas meniatkan ibadah karena Allah semata. Resiko dunia dan akhirat yang begitu besar membutuhkan kebersihan hati dan tawakkal yang tinggi kepada Allah Swt. Seseorang yang akan menunaikan ibadah haji harus mampu melepaskan segala keterikatan hati dan perasaan dengan harta benda, materi, jabatan/karir, derajat, pangkat, hawa nafsu, syahwat, dan kecintaan kepada keluarganya.

Tidak hanya itu saja, lebih jauh juga keterikatan terhadap keluarga, isteri, anak, cucu dan dzuriyahnya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Ibrahim tidak hanya dapat melepaskan derajat keluarga/status sosial dan mengorbankan materi yang dimilikinya. Namun lebih dari itu semua Nabi Ibrahim rela meninggalkan kampung halamanya di tanah gersang yang tidak bisa dihuni oleh siapapun. Nabi Ibrahim AS. Membuktikan Ngungkurne Keningratan keluarga, status social yang tinggi, yang disanjung dan dumuliakan oleh waragannya yang dia tinggalkan.

Anak semata wayang Ismail yang begitu dicintai dan diharapkan kelahirannya sejak muda sampai usia 80 tahun, juga istri tercintanya yang telah melahirkan putra satu-satunya yang kelak diharapkan akan melanjutkan perjuangan dan da’wahnya harus ia ungkurne, harus ia tinggalkan di padang pasir panas lagi gersang. Tidak satupun manusia yang kuat menghuni tempat itu sebelumnya. Taka da sehelaipun benang. Taka ada sesuap-pun makanan. Tak ada setegukpun minuman.Tak ada seorangpun teman. Hajar ditinggalkannya seorang diri beserta bayinya yang masih merah. Dimana hati seorang suami yang seperti itu? Dimana nurani seorang bapak seperti itu? Dimana jiwa pengayom seorang pemimpin seperti itu? Sejuta pertanyaan itu hanya untuk kita. Kita yang tidak dapat merasakan gilanya cinta seorang kekasih pada yang dicintainya. Ibrahim matanya telah buta, telinganya telah tuli, hatinya telah mati. Rasanya taka da lagi. Semua hanya hanya ada Dia. Dia yang memenuhi semesta raya hatinya yang gila dengan cintanya. Tidakkah cukup dengan itu semua? Tidak. Dia maha pencemburu. Dia Maha Esa. Dia tidak mau duakan. Tak mau cinta pengagum yang menggilainnya masih terbagi dengan yang lain. Dia benar-benar tak ada ampun bagi yang menduakan (musrik) cintanya. Dia hanya kekasihnya yang benar-benar ikhlash mencintainya.

Allah SWT yang Maha Pencemburu belum percaya dengan semua pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Allah masih menguji dengan memerintahkan Ibrabim untuk menyembelih anak nya tercinta. Yang pada saat itu tumbuh menjadi seorang remaja tampan nan rupawan. Orang tua mana yang sanggup melakukan pengorbanan sebesar itu? Nabi Ibrahim harus Ngungkurne kecintaan sebagai orang tua, sebagai seorang ayah kepada anak semata wayang yang tentu menjadi buah hati. Orang Jawa meyebut anak Gantilaning atine wong tuwo Tapi Nabi Ibrahim lulus dengan semua ujian itu. Ibrahim lulus Ngungkurne ikatan dan jerat nafsunya dari ikatan berhala yang berujud Ajar, Ismail, Dewi Sarah, Dewi Hajar, membunuh ke akuan diri. Meluruhkan semua ego jiwanya. Melebur gengsi dan kehormatan diri yang semua itu yang menjadi hijab (sekat, tabir, jarak pemisah) hatinya dengan kekasih sejatinya (al-Khalil) yaitu Allah SWT. Rab-nya. Illah-nya. Sebagaimana hatinya telah berikrar: Laa Ilaaha illa Allah.

Dengan Ngungkurne semua itu Ibrahim telah berhasil merebut cinta sejatinya. Yaitu cintanya Allah SWT. Sehingga seluruh semesta menjadi saksi Ibrahimlah Sang Khalilullah.
Agar menjadi khalilullah seeprti Nabiyullah Ibrahim yang mengorbankan tidak hanya hartanya, karirnya, keluarganya, tp jg putranya yang semata wayang. Yg menjadi Gantilaning Ati Semua berhala ( pahami dlm bentuk materi dan kebendaan) harus di Ungkurne. Harus dinafikan. Dilepas dr dalam hativdan jerat jiwanya.

Maka demikian pula dengan seorang muslim yang menunaikan ibadah haji. Banyak orang kaya raya, karir sukses, jabatan tinggi, harta melimpah ruah, ber-uang, tapi itdak bisa menunaikan ibadah haji. Sebaliknya banyak orang faqir, miskin, tukang pijet, tukang kuli bangunan, abang becak, dan lain-lain yang secara nalar tidak mungkin bisa menunaikan ibadah haji. Tapi faktanya bisa berhaji. Inilah rahasia seruan Allah SWT. Bisa jadi krn orang yang demikian karena jiwa dan hatinya rekat-erat terikat kuat pd berhala-berhala itu. Materi dan gengsi semua. Mereka terjerembab dan lekat dengan hijab-hijab itu. Mereka tdk mampu Ngungkurne

Haji mabrur hanya bisa dicapai dengan Ngungkurne derajat, pangkat, martabat,uang, bisnis, karir, harta benda dan keluarga serta dzurriyah sebagai pelepasan sempurna terhadap ikatan pengakuan diri kita (ego) dari kungkungan berhala hawa nafsu kehidupan, yang harus kita lempar dengan kerikil keikhlasan.
Makanya orang Jawa memakai simbul dengan”Buceng Ungkur-Ungkur”,. Orang haji kudu iso ngungkurne masa lalunya, dan semua itu harus ditinggalkan untuk menuju kerumah Allah (Baitullah, Ka’bah) sebagai simbul ruang hampa/kosong, (sepi ing pamrih lan graito ati lan pikiran) dari kepentingan keduniawian dan hanya mengedepankan keikhlasan lillahi ta’ala (kosong, seperti dalamnya Ka’batullah).
Oleh kaerna itu melepas ego, dan ke-aku-an sangat penting dalam menunaikan/ melaksanakan ritual ibadah haji. Dari itu setiap diri diharamkan La rafasa, wala fusuqa, wala jidala fil hajj. Simbul penyucian dari perang batin dari kungkungan materi-materi yang menjadi berhala yang menghijab pd diri seorang muslim. Demikianlah jejak (maqam) Ibrahim yang harus kita teladani dan kita jalankan laku syari’atnya sampai sekarang. Penting bagi orang Jawa untuk dapat membersihkan niat dan pikiran dalam berhaji untuk selalu memegangi makna filosofi dari buceng ungkur-ungkur tersebut. Maka untuk mengurangi tekanan rasa yang begitu berat untuk bisa ngungkurne hijab-hijab hati tersebut orang Jawa mmenej hidupnya dengan mengatur skala prioritas tanggung jawab yang harus diselesaikan berdasarkan urgensi/dharurat dari kewajibannya dulu. Sambil menyiapkan ke kondisi psikologis orang Jawa lebih mendahulukan untuk menuntaskan pendidikan anak-anaknya. Bahkan semua anak yang sudah cukup umur segera dinikahkan terutama anak perempuan. Memabagikan harta yang dimiliki kepada ahli warisnya. Mungkin hanya menyisakan sedikit untuk cadangan jika mungkin dia dapat pulang dengan selamat dari berhaji (Tunggu urip). Membayar semua hutang-hutangnya. Menepati semua janji-janjinya. Serta menulis wasiat jika saja ia tidak akan kembali pulang karena meninggal dunia. Setelah semua dirasa tuntas. Tanggung jawab telah ditunaikan (wis mungkur), barulah ia berhadi dengan hati yang tenang. Hati yang ikhlas. Tidak terganganggu konsentrasinya dengan urusan keduniaan. Orang Jawa menyebutnya “ora mayang mentholeh”.

Perbesar bucengnya. perbanyak sayur dan lauk pauknya, lezatkan ingkung ayamnya. Semoga haji mabrur dapat diraihnya.
Memenuhi syarat, rukun berhaji dengan tertib, memahami makna sejati haqiqat ibadah haji yang tersimbul dlm selametan “Buceng ungkur-ungkur”, semoga beroleh haji mabrur. Aamien…🙏

Oleh: H. Mahfudh Asy-Syairazy. M.Pd.I.